“Aduhh.. ohh.. Vidio Porno emhh!” sepertinya itu suara mereka berdua sedang berciuman sehingga desahannya terhambat, aku tidak tahu persis karena waktu itu pandanganku tertutup tubuh Sinta. “Leo, kamu nggak apa-apa, kita ke rumah sakit ya,” sambung Diana. “Le gua capek berdiri terus, bantu gua ke ranjang dong,” pintanya. “Loh, ngapain kalian berdua ke sini malam-malam begini?” tanyaku. Benar saja perkiraanku setelah beberapa lama kumainkan putingnya tanpa menyentuh dadanya dia mulai memohon. Waktu kumasukkan suara tawanya perlahan-lahan berubah menjadi suara rintihan, senyumnya sirna berganti menjadi ekspresi kesakitan, “Hi.. please!” “Hehehe.. lapor.. “Sin, Sin udah stop dulu.. “Gimana lukamu Le, sori banget ya demi kita kamu jadi gini, kalo nggak ada kamu nggak tau deh gimana nasib kami,” kata Sinta sambil memegangi lenganku yang sudah diperban. ohhh.. gitu ya, lepasin Sin malu tuh diliatin Ci Diana!”“Minta ampun dulu, kalo nggak kagak bakalan gua lepas nih!” “Iya, sori.. Dijilatinya senjataku dengan




















