Kuciumi seluruh wajahnya, menjilat bibirnya yang terbuka dan terengah, menggigit lehernya, menghisap puting susu-nya dan tanpa basa-basi kuangkat tubuhku, menaikkan pahanya ke samping, dan menempelkan ujung kemaluanku di permukan liang kemaluannya. “Nia.. Bokep Jepang ah.. Gila, aku tahu kamu protes atas ucapanku, hahahaha. Kepalaku terasa sangat ringan. “Aku sedih..” isakku. ah.. Kamu mau menyuruhku minta maaf ya?”
“Bukan gitu, Ray..”
“Ya sudah deh, aku ngantuk.”Kuletakkan gagang telepon tanpa menunggu sahutan suara di seberang. “Ah.. Raayy!” seru gadis itu tak kalah sengit. Nia mencondongkan kepalanya. Kuangkat lagi gagang telpon, menekan beberapa nomor. “Ray? mm.. nggak pernah ada apa-apa kan?” Aku tersenyum kepadanya.“Thanks..”
“Your welcome, Ray,” jawab gadis manis itu sebelum menghilang di balik pintu rumahnya. Sekarang Enni menciumi dadaku dengan ganas, menggerak-gerakkan pinggulnya, “Ahh.. Nia bangkit, mendudukkan dirinya, dan menarik pundakku. bagaimana yah?” Nia terlihat bingung, matanya menatap jendela, melihat pepohonan yang seakan berlari.




















