Kami berdua saling berpelukan, saling berciuman, melumat bibir, saling meremas, entah berapa lama.Kami semakin tidak sadar kalau berada diruang terbuka. Tanpa berkata ba, bi, bu, ku gandeng tangan Winny, dia tak menolak, aku semakin berani untuk segera merangkulnya.“Gimana Win? Bokeb nggak usah ribut, nanti pada menengok dan melihat ke sini semua” bisikku di telinganya. Hal ini membuatku lupa dengan istri dirumah yang belum pernah melakukan hal yang demikian.“Oh.. Mereka berdua pun melambaikan tangan, menghidupkan mesin motornya dan melesat turun ke kota.Ketika aku masih bengong melihat Winny dengan pacarnya sudah melesat pergi, tiba-tiba dari belakang di tepuk pundakku oleh Pak Bandung, salah seorang panitia yang telah kukenal sebelumnya.“Hayo! Win, terus Win, teruuss.. Om, terus-terusin Om.., Om.. Om, nakal” sahutnya sambil tersenyum.Sabtu sore itu kami diberi kesempatan untuk pulang mengengok keluarga masing-masing. Nanti jalan-jalan dengan route yang lain dengan kemarin, oke?” aku mengajak Winny.Winny pun mengangguk tanda setuju.Malam itu




















