Klakson dari mobil belakang menyadarkanku akan kemacetan yang sedikit terurai di depan.“Kakak ih, jadi malu kan,”kata Reza setengah berteriak.“Malu sama siapa? Bokep India Matanya memejam, berusaha menikmati gerakannya. Aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahannya.“Reza! Ooooh…………”“Ooooh………… Ooooh……… Ooooh………”“Ummmmh….” Reza merasakan kejantananku yang membelah dinding kewanitaannya.“Kaaaaaak….Ooooh………….” Reza menceracau sambil menggigit pundakku,“Ooooh……! Lucu deh kayanya,” Aku menyambut tangannya,halus, putih, begitu pikiranku ketika pertam menyentuh tangannya.“Oooh……, Reza Lawang Sewu, nama panggungku itu”“Hahaha, ada ada aja deh, oh iya aku Jhony, panggil aja Jhon” sambil menyudahi acara jabat tangan yang lumayan lama.Setelah berbasa basi sejenak, speak speak iblis pun meluncur manis dari bibir tipis tak berdosa ini, setelah bertukar nomer telfon kita janji kalo ada kesempatan kita akan ketemu lagi. Itupun dengan grogi setengah mati, untung saja AC di dalam theater cukup dingan sehingga Aku bisa beralasan jika ditanya macem macem oleh Reza. Seminggu sebelum kampanye terbuka dimulai, Ayahku menyerahkan jadwal kampanye













