Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Bokep Cina Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Aku mengurungkan niatku. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Aku tidak menjepit tubuhnya. Ah apa saja. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Lalu dikocok-kocok sebentar. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga.




















