Aku mengungkapkan mata Eksanti penuh hasrat nafsu. Bokeb Aku tahu dia marah, tapi apa sebabnya..? Soalnya dalam pikiranku saat itu hanya khayalan-khayalan untuk bercinta dengannya. Celana jeans ketat yang dipakai telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekuk pantat yang sempurna.Puas memandangi tubuh Eksanti, lalu aku membaringkan tubuhku di sampingnya. “Pelan maas..”, ujarnya kali, padahal aku merasa sudah melakukannya dengan pelan dan hati-hati. Sebelum berpisah, kami berciuman untuk beberapa saat.Itu adalah ciuman kami yang terakhir.., percintaan kami yang terakhir.., sebelum akhirnya Yoga menikahi Eksanti, 2 bulan kemudian.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, “Occhh..”, teriakku panjang. Aku cermin cermin di depan cermin. “Mas, jangan..!”, Eksanti mencoba menarik tangan kami yang kini sedang mereMas, menggelitik payudaranya. “Mimpi tentang apa, Mas?”, penjelasannya begitu serius menangapiku dilihat dari caranya memandangku.




















