Rupanja Ajah ingin membatja surat wasiat didepanku suara Ajah parau. Bokeb Setiap sore ajah bermain golf, lernjata itu hanja penundaan kematiannja. Diriku sangat penting baginja.Sarinem mendjawab seperlunya. Demikianlah ;.ku mendjadi anak jatim piatu.Aku tidak ingat lagi peristiwa upacara penguburan ajahku, Hanja orang-orang mentjeritakan upatjaranja penuh kebesaran. Tulisan dalam madjalah mentjeri- lakan tentang anak2 Aku melemparkan madjalah “Selecta” ke atas lantai dan segera bangkit. Seperti tertera dalam wasiat* Sarinem ”pelayan rumah” diberi uang sebesar 2.000.000. Aku setuju. Raporku sedang, dan juga ada angka merah.Sesudah penguburan aku dan sarinem kembali kerumah. Dirumah kami tidak punja uang. Tuan Hartono berkata:„Urusan kita sudah semakin madju. Nora Mariam kupcrtjajakan untuk mengeluarkan biaja dari harta peninggalan setiap bulaii chusus buat makan, pakaian, uang sekolah, pengobatan dokter dan sebagainja.Tetapi perusahaan assiiransi diberi hak untuk rtiengawasi segala pengeluaran .




















