Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Bokep Tobrut Creambath? Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Jari tangan mulai dingin. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Hawin lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Hawin kembali ke tempatku. Ke bawah: Tidak. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Aku mengurungkan niatku. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh.Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Aku mengurungkan niatku. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Haruskah kujawab sapaan itu?Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Mendadak jari tanganku dingin semua.Wajahku merah padam.




















