Jari tangan mulai dingin. Bokep Cina Si Junior sudah mengeras. “Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Di mana? “Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Aku tahu di mana ruangannya. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Aku masih mematung. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. “Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. “Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya. “Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas










