“Mas… Anti mau pulang…”, katanya yang membuatku sedikit kecewa. Gadis itu terlihat diam lalu membuka tasnya dan melihat isi dompetnya. Bokeb “I love you Anti…”, kubisikkan rayuan ku ke telinganya.Anti yang masih awam dengan percintaan seperti ini nampak kaku. “Sebentar ya Anti…”, aku menenangkannya, memintanya menyelesaikan birahiku yang sudah mencapai ubun-ubun. Sampai Anti ke mall maupun berkumpul dengan temannya pun, ia selalu mengajakku, hingga suatu hari aku pun iseng menyatakan cinta, dan sungguh jawaban yang tidak pernah aku bayangkan, ranti menerimaku.Kami akhirnya pacaran, hingga berlanjut sampai sekitar 2 tahun. Aku jadi merasa sedikit bersalah padanya. Dari wajahnya yang senduh, menyiratkan dia gadis Jawa tulen. Memang sesuatu yang wajar bagi orang tua untuk melihat anaknya bahagia.




















