Tdk akan hadir kesempatan ketiga. Aq tdk menjepit tubuhnya. Bokep Family Hitam. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Aq makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Nampak ada perubahan besar pada Iin. Shit! Sudah 3 tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Masih ada esok. Aq memegang teteknya. Angin menerobos kencang hingga seseorang yg membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Tdk perlu diantar. Inilah kesempatan itu. Tdk pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku. Keberuntungankah? Aq hanya ditinggali handuk kecil hangat. Sekarang sudah lebih lancar. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Iin datang. Shit!




















