Aku tahu di mana ruangannya. Akumembayangkan dapat menjepitnya di sini. Bokep SMA Membuka celanaku danbajuku lalu gantung di kapstok. Garis setrikaannyamasih terlihat. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagiantepi celana dalam. Pletak, pletok,sepatunya berbunyi memecah sunyi. Kring..!Mbak Wien, telepon. Kalau potong rambutya masuk ke tukang pangkas di pasar. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramahkepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkalpaha. Semuaorang bebas masuk asal punya uang. Tapi ia masihberjongkok di bawahku.Yang ini atau yang itu..? Ah apa saja. Tetapi aku masihbetah di atas mobil ini. Aku duduk di belakang, tempat favorit.Jendela kubuka. Aku duduk di tepi dipan. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruhbayar arisan.Mbak Wien.., gumamku dalam hati.Perlu tidak ya kutegur? Kini ia pindah ke paha,agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Ia tidak membalas tapi lebih ramah.Tidak pasang wajah perangnya.Kayak kemarinlah.., ujarnya sambil mengangkat tabloidmenutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini?




















