Revy…. “Me too”, hanya itu yang mampu diucapkannya sebelum terhentak kembali merasakan sesaknya kejantananku memenuhi organ kewanitaannya. Bokep Brazzers “Boleh tapi di mana?”, tanyaku lagi. Entah sudah berapa kali kami jalan bersama ke tempat itu. Kami terus bergumul dalam paduan kerinduan yang tak terbilang. “Why should you know?”, tanyaku lagi untuk menghindar. Kami duduk di teras, menikmati semilir angin pagi Jakarta yang masih belum terkotori debu polusi, ketika Revy memulai ucapannya, “Ryo, I’ve been thinking about us.., dan Revy tidak bisa hidup begini terus”. Saya hanya akan mengacaukan pilihan jalan hidupnya dengan hadir di antara dia dan tunangannya. God damned, I hate those ring……Malam semakin larut, ketika kuputuskan untuk berpamitan dan pulang. Perang batin berkecamuk seketika, membuatku ragu untuk memilih apa yang akan kukatakan kepadanya.




















