Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Si Junior melemah. Bokep Indo Lalu dikocok-kocok sebentar. Tapi ia dingin sekali. Ah apa saja. Sudahlah. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja.Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Ke bawah lagi: Tidak. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Aku tidak berani menatap wajahnya. Kring..!“Mbak Hawin, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Ia tidak bercerita apa-apa. Tangannya halus. Lalu ia memijat lutut. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas.Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja.




















