Kuciumi putingnya, kulumat, kukunyah, kujilati. Bokep Montok Aku baru sadar ketika aku menelpon hp-nya dan dia mengangkatnya. Aku biasanya memanggilnya mbak Dewi, kebiasaan dari kecil mungkin. Saat itu sedang ada sinetron.“Nggak tidur Wan?”, tanyanya.“Masih belum ngantuk mbak”, jawabku.Aku duduk di sebelahnya. Aku sering mengajari mereka pelajaran sekolah.Tak terasa sudah satu semester lebih aku tinggal di rumah ini. Sebab aku tidak suka mereka. Plok…plok..plok..cplok..!! Tapi saudara tiri. Mbak Dewi tampak mencoba untuk menghindari pandanganku. Ia bertumpu dengan sofa, lalu ia gerakkan atas bawah.“Ohh….wan…enak wan…”, katanya.“Ohhh…mbak…Mbak Dewi…ahhh…”, kataku.Dadanya naik turun. Setelah ganti baju aku keluar kamar. Gaun ini sangat mahal, hampir dua bulan uang sakuku habis. Ia buka kadonya dan mengambil isinya. Ia memakai tshirt ketat. Namun setiap kali aku bilang ke mbak Dewi bahwa perasaanku serius.Hari-hari berlalu. Mbak rela punya anak darimu wan”, katanya.Aku tak menyia-nyiakannya.




















