Keringatnya mengucur, bau badannya tercium
begitu menyengat. Aku
semakin takjub. Bokep Kelihatannya bagus. Sampai satu hari
kudapati Kak Tina muntah-muntah di kamar mandi. Mengeluarkan sapi dan menambatkannya di kebun
belakang rumah, lalu kemudian mengisi bak mandi. Kumasukkan kembali novel-novel
itu. Kubolak-balik halamannya, ada bagian yang ditandai. “Aku, Kak.., Aku”, Jawabku. Aku tak
percaya. Aku terdiam terpaku. Kubolak-balik halamannya, ada bagian yang ditandai. Hanya saja, rasanya
lengket. Kak Tina merapikan bajunya. Kak Tina tidak ada di rumah. “Sudahlah, Nanti juga kamu tahu sendiri”. Pasti dia tak sadar kalau tanganku tanpa
sengaja telah terlempar ke tubuhnya. Pahanya, yang walaupun sedikit gelap namun mulus itu
terpampang jelas di mataku. “Mimpi apa kamu, Sapto?”. Otakku sudah tak mampu
lagi membaca. Berpandangan.




















