“Yang itu Riz, jilatin ‘itu’ tante”, pintaku setengah memelas. Rupanya kata-kataku yang terakhir ini membuat dia tersadar. Bokep Twitter “Eh..ngga liat apa-apa tan”, katanya sambil membalikkan badan. Fariz pun mulai memijitku. Aku pikir toh nanti bisa tanya sama orang di jalan.Sesampainya di B, aku mulai mengikuti petunjuk SMS V untuk menuju ke rumahnya, tapi…jalanan di kota B ini sangat membingungkan. Dia terus menggerakkan tubuhnya maju mundur, makin lama makin cepat, sambil tangannya memegang pinggulku.“Ah..ah..ah…teerrruuus Riz….terruuusss…..aaaaahhhh”.“Tan, Faarriizz maau kke…..lluaarr….giimaannaa nihhhh…..aahhhh…ahhh?”.“Ahhh…aahhh…kkee…ahh…keeluaarinn aja Riz…aahhhhh”.Plok..plook…clooppss….cloppss…. Akupun makin lama makin melebarkan kedua pahaku. Aku berusaha memulai pembicaraan untuk memecah kesunyian. “Gerakin tanganmu maju mundur Riz”, kataku mengarahkan. “Gantian dong, masa kamu aja yang enak?!”, kataku. “Kalo kamu takut, ajak saja temen kamu”, aku meyakinkannya, karena aku sudah pusing mencari alamat V.Akhirnya dia setuju dengan syarat boleh mengjak temannya dan diberi ongkos pulang. Setiap kali kuperhatikan dia langsung membuang muka, karena takut ketahuan olehku.




















