Jijik, Nak!” kataku sembari menggelinjang. Dodi masih di kamar mandi membersihkan dirinya.***Selalu saja Dodi hampir keceplosan. Bokep Cina Membutuhkan belaiannya. Kami terus melakukannya berkisar 12 menit. Dodi hanya tersenyum dan mengecup bibirku dengan lembut dan penuh kasih sayang.***Setelah kejadian itu, aku melihat Dodi semakin bersemangat hidupnya. Dia membopongku ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku sudah tak mampu membendung hasratku. Tapi haruskah Dodi lagi yang membelaiku? Kulepas handuk Dodi dan aku menaiki tubuhnya sembari memeluknya.“Kita ulangi, Ma?” katanya lembut seperti mengejekku.“Kamu yang memulai, sayang. Kata nafsu lagi membuatku menyesal, karena memang itu yang kutakutkan, aku takut bernafsu lagi. Aku melihat cucuku tertidur dengan pulasnya. Dengan lesu Dodi mengecup bibirku sejenak. Besok paginya berkisar pukul 07.00 aku sudah haid seperti biasa. Semuanya sudah terpenuhi, Ma.” katanya sembari terus memompa tubuhku.“Tidak, Dodi… aku mamamu, sayang…” kataku terbata-bata dan tanpa sadar aku sudah memeluknya juga.“Aku tak mau menikah lagi, Ma.




















