“Oh… Ya udah mas. Bokep Montok Karuan aja aku jadi deg-degan…“Gerbang depan udah di kunci, mas”, sebuah suara membuyarkan lamunanku. Panggil aja Mbak. Bibir Mbak Titis lembut sekali, wangi dan itu membuatku semakin bernapsu. “Hehehe… panas banget nih… AC ruang produksi lagi macet”, jawabku sambil pura-pura membereskan mik. Jembutnya lebat sekali dan baunya wangi. “Hati2 pak”, sambungku lagi. Kurasakan tangan Mbak Titis meremas lembut kemejaku. Kalo udah pada tidur ya aku pulang aja. Dan ketika kubuka mataku, kaget setengah mati karena ada tangan lain yang menyentuh penisku. “Menurut kamu, ibu cantik ga”, tanya ibu Titis dengan menatap mataku. “Mbak… Sshh… Sshh… Mau kkeluar Mbak…”, kataku setengah mendesis.




















