Aku protes, “Datang-datang…, bikin repot. Bokep SMA Kak Agun secara perlahan menarik “miliknya” keluar. Cuma seringnya tidur di ruang baca, karena sofa di situ besar dan empuk. Betapa kagetnya aku ketika aku melihat sprei terbercak darah. Betapa kagetnya aku ketika aku melihat sprei terbercak darah. Hanya CD saja yang masih terpasang rapi. Aku mulai berani menjepit badannya dengan kakiku. Sesaat diam dan ketika mulai dinaik-turunkan aku menjerit lagi, “Auchh…, auchh…”. Ciuman Kak Agun terus menjalar hingga leherku. Kembali Kak Agun mencium pipiku, kedua mataku, keningku dan berputar-putar di sekujur wajahku. Walaupun aku merasa biasa-biasa saja (Tapi dalam hati bangga lho.., he.., he..)Aku punya body bongsor dengan kulit putih bersih. Saat itu perasaanku tidak karuan antara kepingin dan takut. Antara malu dan ragu. Tapi Kak Agun lebih kuat. Napasku satu persatu mulai memburu seiring detak jantungku yang terpacu.




















